Monday, April 19, 2021


Prof. Dr. Budiyono Saputro, S.Pd., M.Pd 
Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan IPA IAIN Salatiga

Prof. Dr. Budiyono Saputro, M.Pd resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Manajemen Pendidikan IPA IAIN Salatiga pada tanggal 3 Maret 2021 dihadapan Senat Akademik IAIN Salatiga. Pidato pengukuhan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Budiyono Saputro, M.Pd berjudul: Tafsir Sains Terpadu: Konsep Model Manajemen, Implementasi Teknologi, Penelitian dan Publikasi yang Unggul Berskala Nasional Dan Internasional”. Kebaruan dari produk penelitian konsep model manajemen tafsir sains terpadu ini adalah pada tahapan pelaksanaan pembelajaran tafsir sains terpadu yang terdiri dari 4 tahap yaitu: 1) menentukan dasar sains dari al Qur’an, 2) menentukan isyarat ilmiah, 3) menentukan tema pembelajaran, 4) diskripsi tafsir sains terpadu. Tahapan pelaksanaan pembelajaran tafsir sains terpadu ini dapat memberikan kontribusi memudahkan pelaksanaan pembelajaran dan peningkatan pemahaman tafsir sains terpadu. Prof. Dr. Budiyono Saputro, M.Pd., menyampaikan pesan dan motivasi kepada para dosen, teman sejawat, dan para kolega untuk terus meningkatkan kapabilitas keilmuan melalui riset, pendidikan formal, pengabdian masyarakat maupun kegiatan ilmiah lainnya. Jadikanlah hasil penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai alternatif dan solusi yang mampu membuat perubahan yang signifikan bagi perbaikan dan peningkatan kualitas kehidupan manusia. Bagi para mahasiswa tetap semangat dan terus belajar  agar menjadi insan yang sempurna serta memiliki ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Tingkatkan habituasi bersikap dan berpikir ilmiah dengan balutan etika, moral dan budi pekerti yang luhur dan berakhlak mulia. Berusaha, belajar, bekerja dan berdoa untuk mewujudkan cita-cita dan kejayaan bangsa.


 

Friday, June 12, 2020

PEREMPUAN DESA INDONESIA MENJADI STUDENT AMBASSADOR DI AUSTRALIA


Penulis: Ana Nurhasanah Surjanto, S.Pd.I., M.TESOL.
Awardee Beasiswa LPDP & Student Ambassador di Australia
Kontributor Artikel Keempat




Gambar 1. Ana Nurhasanah Surjanto, S.Pd.I, M.TESOL. saat di Australia

Assalamu'alaikum w.w

Para pembaca yang berhagia. Selamat datang di Blog Literasi Inovasi dan Prestasi Lintas Generasi. Pada edisi kali ini mari kita baca pengalaman kontributor keempat sebagai berikut:


Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah Ta’ala dan ridho Emak tibalah aku di Negeri Kanguru, tepatnya di Kota Melbourne pada tanggal 14 Februari 2016. Saat itu cuaca panas namun diikuti angin yang agak kencang dan itulah Australia dimana musimnya kebalikan dengan Eropa. Jika Eropa lagi winter, maka Aussie summer dan uniknya Kota Melbourne memang cuacanya dalam sehari bisa berubah-ubah. Ada yang mengatakan kalau dalam sehari di Melbourne bisa ada 4 cuaca, paginya cerah dingin, siangnya tetiba panas hujan, kemudian berangin dingin. Makanya, Melburnian (orang Melbourne) sering memakai jaket dan membawa payung ketika keluar rumah dan apapun itu musimnya. Inilah tantangan dan kehidupan baru di luar negeri dimulai. 
Esok harinya perdana menjadi mahasiswa pascasarjana, aku langsung mengikuti orientation week (O-week) atau kalau di Indonesia semacam Ospek. Bergegas aku memilih mata kuliah selama setahun kedepan, mengunjungi booths di Plaza kampus, mencari informasi kehidupan kampus hingga menggali kegiatan di luar akademik.
Lama-lama aku mulai menikmati dinamika kampus, bergabung dengan komunitas-komunitas baik mahasiswa internasional, klub olahraga Melburnian, dan perkumpulan mahasiswa dan masyarakat Indonesia. Nampaknya berbagai hal ini yang membuatku betah di Melbourne, sehingga aku tak mengalami culture shock dan home-sickness. Kemudian dalam tulisan ini, aku ingin menceritakan salah satu pengalaman berkesanku menjalani kuliah di Monash University, yang mana aku terpilih menjadi salah satu Student Ambassador kampus.
Apa itu student ambassador dan pengalaman apa yang didapat?
Awalnya aku seperti kelompok minoritas karena aku menjadi satu-satunya mahasiswa dari Indonesia yang mengenakan hijab dan bagian kecil dari prosentase mahasiswa internasional yang menjadi student ambassador (duta mahasiswa) di Monash University. Kemudian, situasi ini justru mengajarkanku apa itu makna minoritas di tengah-tengah mayoritas.
Student ambassador merupakan program ekstra kurikuler Monash University yang mana aku mewakili Monash Education karena jurusanku TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) dibawah Fakultas Pendidikan. Tujuan program ini untuk merepresentasikan dan mempromosikan fakultas kepada mahasiswa lama dan baru serta memberi pengaruh positif terhadap komunitas di Monash.
Seleksi program ini diselenggarakan setahun sekali dan hanya diambil 30 mahasiswa dari S1 hingga S3 dari 3 kampus Monash tiap tahunnya.Kriteria seleksi yang dipersyaratkan pun cukup tinggi seperti kecakapan dalam bahasa tulisan dan lisan, mampu bekerja sama dengan tim, dan semangat berkontribusi. Melihat bahasa Inggrisku yang pas-pasan dan harus bersaing dengan mahasiswa lokal dan internasional, aku sempat ragu untuk mendaftar menjadi student ambassador.
Kemudian kulihat-lihat kembali persyaratan-persyaratannya yang salah satunya ialah semangat berkontribusi untuk komunitas. Berbekal niat tersebut, kemudian aku mengisi formulir pendaftaran. Formulir tersebut berisi data diri, motivasi mengikuti program, pengalaman berorganisasi dan kegiatan volunteering dan kontribusi apa yang diberikan ke kampus jika terpilih. Akhirnya aplikasi aku kumpulkan via online.
Dari segi timing, mahasiswa yang baru memulai kuliah bulan Februari (Semester Ganjil) akan lebih diuntungkan karena seleksi ini hanya digelar setahun sekali dan pembukaan pendaftaran student ambassador biasanya sejak 20 April. Seleksi penentuan akhir ialah wawancara yang diselenggarakan pada akhir Mei hingga pengumuman resmi peserta terpilih awal Juni.
Uniknya, program student ambassador seperti di Monash ini tidak bisa dijumpai di kampus-kampus lain di Australia. Saat bertanya dan bercakap-cakap dengan teman-teman dari luar kampus, mereka mengatakan bahwa tidak ada program student ambassadors. Namun, tentunya di kampus ada program dari organisasi kampus dan tiap fakultas biasanya memiliki student association, misalnya kalau di Fakultas Pendidikan Monash juga ada Education Students Association (ESA).
Selanjutnya, para student ambassador Monash dibekali dengan latihan kepemimpinan, pertemuan antar kampus, menghadiri workshops, conference dan menyelenggarakan berbagai acara dari Juli hingga Oktober tahun ini.
Kegiatan pada Semester Genap ini sebagai bekal pengembangan kepemimpinan dan pengakraban sesama duta. Ini karena total 80 duta mahasiswa ini berasal dari jurusan yang berbeda dari 3 kampus di kampus Berwick, Clayton dan Peninsula dan berbeda strata dari mahasiswa bachelor hingga doctoral dan beragam latar belakang.
Adanya keberagaman latar belakang ini membuka pikiranku bahwa pikiran itu seperti parasut, jika terbuka maka akan berguna. Jika pikiran itu aku biarkan tertutup karena aku merasa seperti mahluk asing dan minoritas; berbeda karena mengenakan hijab, berstatus mahasiswa internasional, dan kali pertama mahasiswa Indonesia khususnya penerima beasiswa LPDP yang menjadi student ambassador di Monash, maka aku tidak akan melihat dan merasakan betapa indahnya menjadi minoritas dalam mayoritas ini.
Malahan teman-teman ambassador sangat mengapresiasi ide-ideku, menawarkan makanan halal saat kegiatan dan memberi kesempatan untuk bergabung menjadi tim program tanpa melihat identitas, latar belakang atau hal-hal diluar diriku. Aku juga pernah terpilih untuk memberikan welcoming speech untuk mahasiswa baru postgraduate program yang datang ke Monash tahun ajaran Juli 2017.
Mereka sangat menjunjung tinggi kesetaraan dan toleransi. Itupun seperti halnya yang kupahami dalam ajaran agamaku bahwa Tuhan tidak akan melihat kecantikan, ketampanan, kekayaan atau kedudukan seseorang selain daripada kepatuhan mereka dalam menjalankan perintahNya.
Dari pengalaman menjadi student ambassador ini aku juga belajar bahwa kedamaian adalah kunci yang harus aku gunakan dimanapun aku berada. Jauh dari keluarga, merantau meninggalkan kampung halaman dan menghadapi perbedaan di negeri orang memotivasiku untuk banyak bergaul dan mencari pengalaman baru. Dari situ pikiran akan terbuka dan sadar bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk mengaplikasikan perdamaian dimanapun aku berada.
Penulis: Ana Nurhasanah Surjanto, S.Pd.I., M.TESOL.
Instagram: @ana_surjanto, YouTube: Ana Surjanto


Catatan: Bagi pembaca yang ingin berbagi pengalaman menarik dan karya inovasi, naskah dapat dikirim melalui email: literasiinovasiprestasiblog@gmail.com

Wassalamu'alaikum w.w

Redaksi
Dr. Budiyono Saputro, M.Pd

CALL FOR PAPERS 2020


Journal of Future Science Studies (JFSS)


Dr. Budiyono Saputro, M.Pd
Editor In Chief


Gambar 1. Laman Journal of Future Science Studies (JFSS)
The Journal of Future Science Studies (JFSS), the official publication of the newly formed Tadris IPA Lecturers Association (ADRISPA), is an open access academic journal published bi-anually. JFSS cordially welcome for academics, researchers, and practitioners to publish research papers and academic articles on science studies. We are now recieving manuscripts for new upcoming Volume. The last date of submission: 31th October 2020. All manuscripts must be submitted by email to jssadrispa@gmail.com and online submission.
Sincerely Yours,
Editor In-Chief
Dr. Budiyono Saputro, M.Pd

Thursday, June 4, 2020

SHARING BEASISWA FULLY FUNDED ICCR INDIA



Penulis: Danang S W 
Awardee Beasiswa ICCR India
Kontributor Artikel Ketiga


Gambar 1. Mas Danang SW Berkunjung Ke Tajmahal

Pembaca yang budiman, kali ini pengisi artikel ketiga adalah peraih beasiswa ICCR India yaitu Mas Danang SW. Instagram Mas Danang : www.instagram.com/danang_dann. Mari kita simak bersama tentang beasiswa ICCR India.
Pertama kali dengar beasiswa ICCR (Indian Council Cultural Relations) dari dosen kampus yang kebetulan dulu beliau pernah mengenyam pendidikan di India dengan jalur bantuan beasiswa ini pula. Mulai tertarik dan penasaran setelah mendengar cerita, uniknya india, dan serba serbi negeri dua benua ini.
Berbekal niat & tekad bulan raih beasiswa, di tahun 2018 ku mantapkan langkah tegap apply beasiswa ICCR. Dan alhamdulillah bi idznilah, ada pesan email masuk yang menyatakan bahwa saya dinominasikan sebagai awardee beasiswa ICCR 2018. Dua minggu selanjutnya, pihak Keduataan Besar India menginfokan untuk segera datang ke kantor kedutaan guna pengurusan dokumen, visa, dan berkas lainnya. Dan singkat cerita, bulan juli 2018 saya pun berangkat ke tanah Ghandi.
ICCR sebenarnya salah satu dari sekian beasiswa yang saya apply. Tujuannya ingin lanjut studi terlebih di luar negeri sebagai impian saya. Selain itu saya bisa mendapatkan international experience sebagai bonusnya bisa menambah wawasan dari Negara yang saya tuju. Dan kebetulan India banyak sekali keunikan makanan, budaya, seni, yang beranekaragam. Inilah yang membuat saya tertarik dengan India.
Alhamdulillah ini tahun terakhir saya di program Master, flascback setahun silam, pertama tinggal di india harus bisa siap menerima cultural shock. Banyak point disini sebenarnya. Cuma saya bagikan pengalaman singkat di ranah akademik dan aktifitas sehari2 saja. Di dunia akademik, saya pribadi merasa tertantang dengan sistem model pembelajaran serta metode pengajaran professor di kampus. Bagaimana tidak, dari pelafalan tutur kata saja mereka menggunakan bahasa inggris yang versi india. Ya pasti kalian tahu sendiri bagaimana mahasiswa india kalau ngomong inggris dengan logat khas mereka. Nah, itu yang salah satu polemik sebagai mahasiswa non-india disini. Namun, lambat laun, hal tersebut menjadi normalitas yag berjalan sehari-hari. Tinggal kita bagaimana beradaptasi dan bisa mengimbangi kondisi yang ada.
Nah, kembali lagi ke topic, untuk beasiswa ICCR sendiri cakupannya fully funded, uang bulanan, biaya kesehatan, uang buku per tahun, dll. Jadi, bagi para scholarship hunter, beasiswa ICCR ini sangat worth it. Tak ada salahnya untuk mencoba. Dan hampir semua jurusan ada, kecuali bidang kedokteran. Intinya tetap luruskan niat untuk belajar di luar negeri dimanapun itu, iringi doa dengan usaha. Dan tak lupa restu dari orang tua menjadi kunci utama.
Informasi detail tentang beasiswa ICCR bisa kalian kunjungi di official website saya. Semoga bermanfaat. Click here: https://www.mrdann.com/beasiswa-iccr-india-fully-funded-s1-s2-s3/
Bagi yang mau info tentang beasiswa lain boleh juga follow Instagram
Good luck and see you on the top of success.



Salam dari Tanah Gandhi,

@danang_dann

Catatan:
Bagi pembaca yang ingin mengirimkan naskah tentang pengalaman menarik dan karya inovasi, dapat dikirim melalui email: literasiinovasiprestasiblog@gmail.com

Redaksi
Dr. Budiyono Saputro, M.Pd

Saturday, May 30, 2020

SARASEHAN DAN HALAL BI HALAL


Sarasehan & Halal Bi halal S3 Manajemen Pendidikan Angkatan 2009 UNNES
Kiat Tembus Jurnal Indexing Scopus
Dalam International Conference on Communication, Management and Humanities (ICCOMAH )

Dr. Budiyono Saputro, M.Pd
Internasional Committee

Gambar 1. Alumni S3 MP UNNES Angkatan 2009

Acara halal bi halal Program Doktor Angkatan 2019 Program Studi Manajemen Pendidikan UNNES Semarang diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 30 Mei 2020 melalui Zoom selama 2.5 jam. Acara ini diprakarsai oleh Prof. Dr. Munawir Yusuf, M.Pd (Guru besar UNS Surakarta), Dr. Abdurrahman, M.Pd (UNNES Semarang)   dan Dr. Wahira ( Universitas Negeri Makasar) selaku host. Acara ini halal bihalal disampaikan oleh Dr. Supaat, M.Pd (Ketua Dinas Pendidikan Kabupaten Pemalang) dan Doa oleh Dr. Zaenal Mustaqim, M.Ag (IAIN Pekalongan). Setelah itu acara ramah tamah membahas kiat menuju guru besar oleh semua peserta dimulai dari Prof. Dr. Munawir Yusuf, Dr. Bunyamin, M.Pd ( Bappeda Kota Semarang), Dr. Akhmad Arif Musadad, M.Pd (UNS Surakarta), Dr. Yari Dwi Kurnaningsih (UKSW), Dr. Atiek Zahruliyaningdiyah, M.Pd (UNNES), Dr. Heri Yudiono (UNNES), Dr. M. Burhan Wijaya (UNNES), Dr. Ngurah Ayu N (UPGRIS Semarang), Dr. Budiyono Saputro (IAIN Salatiga), Dr. Jaka Agus Pramana (DLB IAIN Salatiga), Dr. Unang Achlison (STEKOM Semarang), Dr. Muhtar (Bappeda Kab. Pati) dan Dr. Sari Hernawati (Univ. Wakhid Hasyim Semarang). Saya selaku international committee memberikan masukan untuk mengikuti ICCOMAH. Artikel selected pada ICCOMAH akan publish pada Jurnal Humanities & Social Sciences Reviews (HSSR) Jurnal Internasional Index. SCOPUS dan International Journal of Communication, Management and Humanities (IJCoMaH)Saya selaku akademisi dan panitia conference ICCOMAH memberikan informasi penyelenggaraan conference ini. Bagi yang berminat dapat mendapatkan informasi pada link: 
1.https://iccomahaidconference.weebly.com/
atau dapat konsultasi dengan saya selaku Internasional committee melalui kolom komentar di Blogspot saya ini.





Sunday, May 24, 2020

Duta Mahasiswa, Dedikasi bagi Institusi

Penulis: Wawan Kurniawan
Duta IAIN Salatiga Tahun 2017
Alumni Tadris IPA FTIK IAIN Salatiga
Kontributor Artikel Kedua




Gambar 1. Wawan Kurniawan Duta IAIN Salatiga Acara Salatiga Expo 2018


Wawan Kurniawan, S.Pd adalah Alumni Tadris IPA FTIK IAIN Salatiga. Duta Tadris IPA FTIK IAIN Salatiga dan DUTA IAIN Salatiga. Mari kita simak bersama pengalamannya sebagai berikut: menjadi seorang mahasiswa adalah masa dimana dapat membuka diri untuk belajar berbagai hal. Baik belajar di akademik maupun non akademik. Keduanya sangat penting untuk dipelajari bagi mahasiswa. Di bagian akademik dapat belajar secara spesifik pada program studi yang dipilih. Contohnya Program Studi Pendidikan IPA dimana mahasiswa belajar praktikum, eksperimen, mengajar, dan lain-lain. Sementara di bagian non akademik dapat belajar bagaimana kita berorganisasi, berinteraksi, serta belajar kehidupan yang nantinya akan kita hadapi setelah lulus dari institusi.
Tidaklah mudah bagi yang belum terbiasa untuk bisa melaksanakan kegiatan akademik dan non akademik secara bersamaan. Dari sinilah kita  dapat belajar untuk mengatur waktu yang kita miliki sebagai mahasiswa. Terlebih lagi mahasiswa program studi yang banyak praktikumnya seperti Pendidikan IPA dimana semester awal (1 sampai 4) penuh dengan mata kuliah praktikum. Kesibukan yang kita peroleh ketika mahasiswa tidak sebanding dengan kesibukan yang kelak kita dapatkan ketika sudah hidup bermasyarakat. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjadi mahasiswa yang aktif secara akademik maupun non akademik.
       Pada saat kuliah semester 5, saya mengikuti pemilihan Duta IAIN Salatiga yang diadakan oleh PANDAMA (Paguyuban Duta Mahasiswa IAIN Salatiga). Jujur saja soal tingkat percaya diri saya tidak begitu baik. Saya adalah orang yang cenderung introvet. Untuk menjadi Duta IAIN Salatiga pada waktu itu ada pemilihan yang melibatkan seluruh mahasiswa. Tentu saja untuk bisa maju dalam prosesi pemilihan saya harus memiliki skill atau kelebihan yang dapat bersaing dengan peserta lain. Saya memberanikan diri untuk mengikuti acara pemilihan duta tersebut. Berbekal hanya keyakinan dan belajar mandiri, saya merasa bahwa saya akan gugur pada babak awal. Ketika itu saya mendapatkan rekomendasi dari Ketua Jurusan Program Studi yang mendukung saya untuk mewakili program studi Pendidikan IPA (Tadris IPA). Hal tersebut membuat saya memiliki rasa percaya diri untuk bersaing dengan mahasiswa lain dari setiap Fakultas.
          Pemilihan duta IAIN Salatiga dilaksanakan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah seleksi administrasi. Disini panitia menyeleksi mahasiswa yang aktif baik secara akademik maupun non akademik. Tahap kedua adalah tes bahasa, keagamaan, dan pengetahuan umum. Pada tahap ini saya terbilang gugup ketika tes bahasa. Hal ini karena saya belum mahir dalam menggunakan bahasa asing (english atau arabic). Alhamdulillah pada tahap ini saya berhasil masuk 20 besar yang akan lanjut ke tahap tiga. Skor yang saya dapatkan pada seleksi tahap kedua ini tidaklah beigtu bagus. Saya hanya mendapatkan posisi 15 besar. Tahap ketiga pada pemilihan duta IAIN Salatiga adalah karantina selama 1 (satu) minggu sekaligus tes kepribadian, bakat, dan kemampuan bahasa asing lebih lanjut. Pada tahap ini semua finalis akan lanjut pada tahap keempat, yaitu sesi interview dan tampil di atas panggung pemilihan duta IAIN Salatiga. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk menjadi Duta IAIN Salatiga walaupun hanya mendapatkan juara tiga. Pada tahap seleksi saya sudah berjuang secara maksimal sesuai kemampuan saya. Saya awalnya tidak menyangka akan  meraih posisi pada pemilihan ini. Suatu kebanggan tersendiri dan juga amanah yang harus saya jalani kedepannya untuk berdedikasi bagi Institusi.
Bagi saya, menjadi Duta kampus merupakan suatu kebanggan tersendiri, karena saya dapat ikut serta berkontribusi dalam kemajuan kampus. Dengan menjadi duta, saya sering menjadi wakil dalam banyak acara atau kegiatan baik dalam maupun luar kampus. Disamping itu, saya merasa ada kemajuan dalam diri saya walaupun kecil. Duta IAIN Salatiga memiliki wadah bernama PANDAMA dimana para finalis tetap menjadi bagian dari duta IAIN Salatiga. Dengan ini, saya menambah banyak relasi dari setiap fakultas yang ada di kampus. Manfaatnya begitu besar saya rasakan karena dapat berinteraksi lebih luas dengan dosen, mahasiswa, bahkan akademisi dari luar kampus. Menjadi duta IAIN Salatiga tidak membuat sisi akademik saya sebagai mahasiswa turun. Alhamdulillah berorganisasi dan belajar di kampus saya dapatkan selama kuliah di IAIN Salatiga. Tahun 2019, saya lulus S1 dengan masa studi 3 tahun 7 bulan. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kalian yang sedang atau akan kuliah untuk aktif secara akademik maupun non akademik.
Terima kasih, semoga bermanfaat.

Jika pembaca ingin kirim naskah dapat melalui email: literasiinovasiprestasiblog@gmail.com

Friday, May 22, 2020

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441 H




Assalamu'alaikum w.w

Kami sekeluarga menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, mohon maaf bila terdapat khilaf, tutur kata maupun tingkah laku yang kurang berkenan di hati para pembaca. Semoga Allah swt memberikan perlindungan kepada kita semua dan memberikan kesehatan, serta kemudahan dalam segala urusan kita. Aamiin...

Wassalamu'alaikum w.w






Prof. Dr. Budiyono Saputro, S.Pd., M.Pd  Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan IPA IAIN Salatiga Prof. Dr. Budiyono Saputro, M.Pd resmi dik...